Senin, 02 Februari 2026

Memahami Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik (UGM)

Program Sarjana Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) UGM merupakan pelopor institusi pendidikan di bidang administrasi publik di Indonesia. Program Sarjana MKP UGM memiliki dua jalur, yaitu reguler dan jalur internasional. Kedua jalur tersebut menawarkan sejumlah program yang bertujuan untuk menghasilkan lulusan berkualitas yang memiliki kompetensi teoritis dan praktis, tidak hanya dalam bidang administrasi publik, tetapi juga analisis kebijakan publik dan kegiatan manajemen publik. Program Sarjana MKP memiliki visi untuk menjadi lembaga pendidikan dan penelitian yang diakui secara internasional dalam bidang kebijakan dan manajemen publik. Di bawah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang dipandu oleh visi “Committed to Science for Better Society”, MKP bertekad menyelenggarakan pendidikan sarjana untuk “Strengthening Democratic Public Governance“. Sejalan dengan visi tersebut, Program Studi S1 MKP berkomitmen untuk menghadirkan pendidikan bertaraf global dengan membangun kerjasama dibidang pengajaran dan penelitian dengan 14 universitas luar negeri. Kerjasama yang dibangun ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang lebih luas bagi peserta didik untuk mendapatkan pengalaman dan kualitas pendidikan berdaya saing global.


Lulusan program studi S1 MKP dengan gelar Sarjana Ilmu Politik (S.I.P), dibekali dengan keterampilan dan kemampuan yang diperlukan untuk mengatasi tantangan yang dihadapi oleh para pembuat kebijkaan dan manajer publik. Melalui program ini, mahasiswa akan diberikan kesempatan untuk mendalami isu-isu teoritis dan empiris yang dihadapi oleh para pelaku di sektor publik dan swasta, sehingga lulusan dari program sarjana MKP memiliki kompetensi yang dibutuhkan seperti: kemampuan dalam pengelolaan organisasi publik dan non-publik, cara membangun jaringan antar organisasi pemerintah, swasta, dan sosial. Lulusan juga dibekali keterampilan untuk memahami karkateristik aktor-aktor dalam membangun jaringan, menguasai nilai-nilai kepentingan publik dalam organisasi publik maupun non-publik, serta teknik-teknik penyelesaian masalah (problem solving) yang terkait dengan penyelenggaran program-program organisasi publik dan masalah publik secara umum.

Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL)

CPL 1 – Sikap

Lulusan mampu:

  1. Bersikap kritis terhadap fenomena manajemen publik dan politik yang berkembang.

  2. Berpartisipasi secara aktif dalam pemecahan masalah dan resolusi konflik di organisasi publik maupun non-publik.

  3. Menjunjung tinggi nilai kepentingan publik dalam praktik tata kelola pemerintahan.


CPL 2 – Pengetahuan

Lulusan mampu:

  1. Menganalisis dan menginterpretasikan data kuantitatif dan kualitatif yang berkaitan dengan kebijakan publik dan proses pengambilan keputusan.

  2. Mengevaluasi dan membandingkan kebijakan publik serta dinamika manajemen publik yang ada.

  3. Memahami konsep kepemimpinan, inovasi, dan jejaring antarorganisasi dalam sektor publik dan non-publik.

  4. Memahami prinsip advokasi kebijakan publik dan reformasi sektor publik.


CPL 3 – Keterampilan Umum

Lulusan mampu:

  1. Menunjukkan pemikiran sistemik dalam merumuskan kebijakan publik.

  2. Memimpin organisasi publik dan non-publik secara efektif.

  3. Membangun dan mengelola jejaring kerja sama antarorganisasi.

  4. Mempengaruhi aktor lintas sektor dalam proses kebijakan publik.

  5. Berperan aktif dalam penyelesaian masalah dan konflik organisasi.


CPL 4 – Keterampilan Khusus

Lulusan mampu:

  1. Menganalisis dan menginterpretasikan data kuantitatif dan kualitatif untuk mendukung pengambilan keputusan kebijakan publik.

  2. Mengevaluasi serta membandingkan kebijakan publik dan dinamika manajemen publik.

  3. Merumuskan kebijakan publik berbasis pemikiran sistemik.

  4. Menciptakan inovasi manajemen publik.

  5. Melakukan advokasi kebijakan publik dan reformasi sektor publik.

  6. Mengartikulasikan dan memperjuangkan nilai-nilai kepentingan publik.


Kompetensi Lulusan 

Lulusan memiliki kompetensi untuk:

  1. Menganalisis dan menginterpretasikan data kuantitatif dan kualitatif dalam kebijakan publik dan proses pengambilan keputusan.

  2. Mengevaluasi dan membandingkan kebijakan publik serta dinamika manajemen publik.

  3. Merumuskan kebijakan publik melalui pendekatan pemikiran sistemik.

  4. Mengembangkan inovasi dalam manajemen publik.

  5. Memimpin organisasi publik dan non-publik.

  6. Membangun dan mengelola jejaring antarorganisasi.

  7. Mempengaruhi aktor lintas sektor dalam proses kebijakan.

  8. Melakukan advokasi kebijakan publik dan reformasi sektor publik.

  9. Bersikap kritis terhadap fenomena manajemen publik dan politik.

  10. Berpartisipasi dalam pemecahan masalah dan resolusi konflik organisasi.

  11. Mengartikulasikan dan memperjuangkan nilai-nilai kepentingan publik.

Minggu, 25 Januari 2026

Dari Alfiyah ke Kebijakan Publik: Etika Bahasa dan Etika Mengatur Kehidupan

Ibnu Malik menyusun Alfiyah untuk merangkum kaidah bahasa secara sistematis dan menyeluruh. Secara filosofis, ini sejalan dengan hakikat kebijakan publik: upaya merumuskan aturan yang tertata, komprehensif, dan dapat diterapkan dalam kehidupan bersama. Sebagaimana nahwu mengatur bahasa agar tidak kacau, kebijakan publik mengatur masyarakat agar keadilan dan keteraturan dapat terjaga.

"كَلَامُنَا لَفْظٌ مُفِيدٌ كَاسْتَقِمْ"

Dalam Alfiyah, kalam dinilai sah jika memberi faedah. Prinsip ini sangat relevan dalam kebijakan publik: kebijakan yang baik bukan yang rumit atau indah secara konseptual, melainkan yang bermanfaat nyata bagi masyarakat. Secara etis, kebijakan yang tidak menghadirkan maslahat sama seperti lafaz yang tidak mufid—ada, tetapi kehilangan legitimasi moralnya.

"وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ"

Pembagian unsur kata mencerminkan pembagian peran dalam tata kelola publik. Isim dapat dimaknai sebagai lembaga atau aktor utama, fi‘il sebagai tindakan kebijakan, dan huruf sebagai regulasi penghubung antar kepentingan. Kebijakan publik yang sehat menuntut harmoni peran: aktor yang tepat, tindakan yang efektif, dan aturan yang menghubungkan tanpa menindas.

Dalam nahwu, kejelasan identitas ditentukan oleh tanda, bukan klaim. Dalam kebijakan publik, legitimasi juga lahir dari indikator nyata: keadilan, transparansi, dan keberpihakan pada yang lemah. Secara filosofis, negara atau penguasa tidak cukup mengklaim diri adil; keadilannya harus “terbaca” dalam praktik kebijakan.

Terdapat pula konsep jar atau posisi rendah dapat dimaknai sebagai prinsip kerendahan hati dalam kekuasaan. Kebijakan publik yang beretika menuntut pengambil kebijakan untuk “turun ke bawah”, mendengar suara rakyat, dan memahami realitas lapangan. Kekuasaan yang tidak mau merendah akan kehilangan sentuhan kemanusiaannya, sebagaimana kata yang kehilangan fungsi gramatikalnya.

Melalui kacamata Alfiyah, kebijakan publik dapat dipahami sebagai “bahasa kolektif” masyarakat. Jika bahasa memiliki kaidah agar makna tidak rusak, maka kebijakan pun membutuhkan etika agar keadilan tidak menyimpang. Pesantren, melalui tradisi nahwu dan perenungan moralnya, menawarkan fondasi filosofis bahwa mengatur manusia harus dilakukan dengan adab, keteraturan, dan orientasi pada kemaslahatan.

Dengan demikian, Alfiyah tidak hanya mengajarkan cara menyusun kalimat yang benar, tetapi juga memberi isyarat tentang bagaimana menyusun kehidupan bersama secara adil dan bermakna.

Alfiyah Ibnu Malik: Dari Kaidah Nahwu Menuju Nilai Kehidupan

Di lingkungan pesantren, Kitab Alfiyah Ibnu Malik tidak hanya dipelajari sebagai kitab nahwu, tetapi juga dihayati sebagai sarana pembentukan karakter. Di balik bait-baitnya yang padat dan sistematis, tersimpan nilai-nilai kehidupan yang membimbing santri dalam memahami makna ilmu, peran diri, dan sikap hidup.

Ibnu Malik membuka Alfiyah dengan penegasan bahwa ilmu disusun agar mencakup seluruh pembahasan secara ringkas dan bermanfaat. Dari sini, santri diajarkan bahwa ilmu sejati bukan tentang banyaknya hafalan, melainkan tentang keteraturan, kedalaman, dan kemanfaatan. Ilmu yang baik adalah ilmu yang menuntun manusia menjadi lebih sadar, lebih rendah hati, dan lebih berguna bagi sesama.

"كَلَامُنَا لَفْظٌ مُفِيدٌ كَاسْتَقِمْ"
Salah satu bait paling mendasar dalam Alfiyah menyebutkan bahwa kalam adalah lafaz yang memberi faedah. Dalam konteks kehidupan, bait ini mengajarkan bahwa keberadaan manusia pun seharusnya bermakna. Seperti kalam mufid, hidup seorang santri idealnya memberi pengaruh positif—baik melalui lisan, perbuatan, maupun keteladanan sikap. Hidup yang tidak memberi manfaat, sebagaimana lafaz yang tidak sempurna maknanya, menjadi kehilangan nilainya.

Pembagian kata menjadi isim, fi‘il, dan huruf juga mengandung pelajaran penting. Tidak semua kata berdiri sendiri; ada yang berfungsi sebagai pelaku, ada yang menunjukkan proses, dan ada pula yang hanya menjadi penghubung. Pesantren mendidik santri untuk memahami bahwa tidak semua orang harus tampil di depan. Setiap peran, sekecil apa pun, memiliki nilai jika dijalani dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.

Lebih jauh, tanda-tanda isim—seperti jar dan tanwin—mengajarkan bahwa sesuatu dikenali melalui ciri, bukan klaim. Dalam kehidupan, kematangan iman dan akhlak tidak diukur dari pengakuan, tetapi dari konsistensi perilaku. Bahkan posisi jar yang secara bahasa bermakna “turun” dapat dimaknai sebagai simbol kerendahan hati. Pesantren menanamkan kesadaran bahwa merendah bukan berarti hina, justru sering menjadi jalan menuju kemuliaan.

Dengan demikian, Alfiyah Ibnu Malik menjadi lebih dari sekadar kitab tata bahasa. Ia adalah teks pendidikan jiwa yang melatih kesabaran melalui hafalan, ketekunan melalui pengulangan, dan kebijaksanaan melalui pemaknaan. Bagi santri, memahami Alfiyah berarti belajar membaca bahasa Arab sekaligus membaca diri sendiri.

Alfiyah mengajarkan bahwa hidup, seperti bahasa, memiliki aturan, makna, dan tujuan. Ketika ilmu dipelajari dengan adab dan direnungkan dengan hati, maka pesantren tidak hanya melahirkan orang yang paham kaidah, tetapi manusia yang matang secara intelektual dan spiritual.

Selasa, 14 Desember 2021

Munajat Sang Ayah

Dalam sebuah buku berjudul “Birrul Walidain” ; Karya Prof. Muhammad Quraish Shihab,  Saya temui uraian menarik tentang cinta dan harapan seorang Ayah yang terbalut  dalam bait puisi yang indah;

 

“ Anakku... wahai denyut jantungku.. wahai buah hatiku

Anakku.. wahai bintang yang kunantikan kemunculannya...

Agar kutemukan cahaya dimalam yang gelap

Ku bermohon kepada Tuhan semoga di senja usiaku

Sebelum ajal datang mengunjungiku...

Kiranya mataku dapat melihat pandangan indah;

Sosok penuh khusyu’ dalam ketaatan..

Suci pandangannya dan terpelihara tangannya

Tekun dalam mihrab dan usahanya, serta

Menandingi bintang dalam gemerlapnya.”

 

Aamiin..

Minggu, 19 September 2021

Kecintaan Syaikh Mutawalli Sya'rawi kepada Gurunya



(Pesan cinta dan kerinduan Syaikh Mutawalli Sya'rawi kepada Guru Baliau; Sayyid Muhammad Balqoid)


"Sesungguhnya aku mengucapkan salam kepada Guruku Al 'Arif billah Sayyidi Muhammad Balqoid.

Dan aku berkata kepadanya, Ketika cinta itu bersih 

Dia akan sanggup memikul beban beratnya perpisahan.

Dan orang yang merindukan perjumpaan dengan seseorang, berarti orang tersebut tidak ada dalam benak pikirannya.

Dan engkau wahai guruku, Alhamdulillah.. tidak pernah jauh dari benak pikaranku.

Dan aku bersumpah.. Bahwa engkau bersamaku dalam setiap kesadaranku, karena Allah-lah yang menjadikan kita saling mencintai. Selagi kita saling mencinta karena Dia, maka kita akan selalu dalam "ma'iyyah-Nya", sedangkan "ma'iyyah-nya" tidak mengenal waktu - dan tempat yang berbeda.

Dan aku  memohon kepada Allah, Semoga Allah kumpulkan aku denganmu, Kumpulan makhluk yang tertinggi dan mulia.

Sehingga menyatulah jiwa kita, dan layak untuk menghadap kepada Tuhan Pencipta Semua Ruh.

Semoga Allah memberikan tambahan manfaat padamu wahai guruku, dan bertambah pengaruhmu, dan bertambah pula "maddad" (pancaran cahaya)-mu 

Sehingga mencakup seluruh manusia, seperti luasnya kedudukanmu di sisi Allah 

Dan sehingga engkau dipanggil dengan memimpin orang-orang yang cinta kepada Allah melalui dirimu.

Dan berjalan kepada Allah dengan rasa "khudu'"(rendah diri) di atas jalanmu yang baik dengan tauladan yang baik. 

Pada hari dimana Kami dibangkitkan manusia bersama dengan gurunya.. Dan Insya Allah kita akan yang terpanggil bersamamu, Wahai Imam Thariqat di zaman ini, Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh."


    Kamis, 22 Februari 2018

    Hanya Catatan Saja

        Dalam kesempatan kali ini, saya akan mengungkapkan pesan-pesanku yang seharusnya saya sampaikan pada saat penyambutan kepada mahasiswa baru tadi se-Alumni Man 3 Kediri (Ikapamandiga_ Region Jogja).
        Yang pertama-tama saya ucapkan mohon maaf atas nama pribadi maupun mewakili teman-teman sekalian atas kemoloran acara penyambutan ini dari agenda awal sebagaimana kami memberi kabar adik-adik untuk hadir.
    Seharusnya kami sebagai Kang Mas dan Mbakyu memberi contoh yang baik. Namun disamping itu tidak dapat saya pungkiri, semakin tua akan semakin banyak urusannya. Ya seperti itulah kondisinya, ada keperluan lain yang ada saja harus dikerjakan. Namun hormat saya tetap terhaturkan kepada kawan-kawan yang masih mau menyempatkan untuk hadir/mampir dalam kumpul-kumpul siang ini, untuk sekadar silaturahim..

    Kamis, 24 Desember 2015

    Sejarah Pramuka di Dunia dan Indonesia




       Pramuka merupakan kependekan dari Praja Muda Karana yang berarti kaum muda yang suka berkarya. Di Indonesia sendiri penggunaan istilah “Pramuka” baru resmi digunakan pada tahun 1961 berdasarkan Keputusan Presiden nomor 238 tahun 1961. Akan tetapi gerakan pramuka sejatinya telah ada sejak jaman penjajahan Belanda dengan nama kepanduan.
    Taukah anda sejarah pramuka di dunia dan di Indonesia? maka simak asal usul pramuka di bawah ini.

    Kamis, 15 Januari 2015

    Almarhum Gus Dur

    Dinasihatkan oleh Rasulullah SAW : “ udzkuruu mahasina mautakum ”; Renungkanlah, ingatlah , sebutlah; jasa-jasa, kebaikan orang mati kamu. 
    Tidak kurang dari 200 kali, kata-kata dzikir terulang didalam Al quran, objeknya bermacam-macam, salah satu diantaranya adalah berdzikir, merenung, mengingat ,menyebut2 ; tokoh-tokoh, lebih2 yang memiliki jasa didalam masyarakat. 
    Kalau kita berbicara tentang Gus Dur , tidak mudah membicarakan tokoh ini, karena tidak mudah menemukan kunci kepribadian almarhum. 
    Bahkan bisa terkesan bahwa ada semacan kontradiksi dari sikap-sikap Beliau. 
    Beliau itu serius, tetapi suka bercanda. Dalam hal-hal serius seringkali kita mendengar beliau berucap “begitu aja kok repot”, serius dan bercanda itu bertolak belakang, namun tidak harus dipertentangkan.
    Gusdur seorang yang sangat rasional, tetapi dalam saat yang sama beliau percaya suprarasional.
    Yang terkadang bagi orang-orang yang tidak mengerti dinamai irasional. 
    Gusdur almarhum, seorang yang demokrat: senang bermusyawarah ,tetapi dalam saat yang sama karena kuatnya kepribadian beliau dan kuatnya cara-cara beliau untuk mempertahankan pendapatnya, terkesan bahwa beliau otoriter.
    Gusdur Allahu yarham, seorang yang berpijak di bumi Indonesia , melihat jauh ke depan,
    tetapi dalam saat yang sama tidak pernah tidak menoleh kebelakang. 
    Gusdur bukan saja mengumandangkan dan mempraktekkan ungkapan yang dikenal oleh agamawan dengan “almuhafadhotu alal qodimis sholihh, wal ahlu bil jadidil ashlah”.. Tidak saja sekedar memelihara yang baik dari masa lalu, serta mengambil yang lebih baik dari masa kini, tetapi Gusdur lebih dari itu, Beliau juga mempersembahkan sesuatu yang orisinil baru dari Gusdur. 
    Dalam pandangan agamawan dan ilmuwan, kalau Anda menemukan suatu orang yang memiliki sikap masyarakat kontradiktif terhadapnya, maka ketahuilah bahwa orang yang bersangkutan adalah orang yang jenius.
    Memang, kata para pakar; bisa jadi kalau menurut ukuran akal itu mustahil, tetapi kalau kita menggunakan ukuran hati itu tidak mustahil. 
    Seorang yang mencapai kedudukan akal yang sehat tidak mungkin baginya memadukan 2 hal yang bertolak belakang. 
    Tetapi bagi seorang yang mencapai puncak akal dan puncak kesucian jiwa, dia dapat mencapai dan menggabungkan 2 hal yang bertolak belakang.
    Gusdur merupakan seorang tokoh yang berpijak pada masa kini, tapi menoleh kebelakang, sekaligus memandang jauh kedepan. 
    Terkadang pikiran-pikiran Beliau melampaui masanya, sehingga setelah beliau pergi dan masa berubah,
    maka baru banyak orang yang akan menyadari bahwa, "oh itu Gusdur benar ketika itu".
    Ketika itulah Gus Dur bagaikan mendendangkan syair, mewakili para tokoh dan pemimpin-pemimpin  dunia yang semasa hidupnya terkadang disia-siakan, dengan ungkapan: Sayadzkuruni qaumi idza jadda jidduhum, wafil lailati dzulma'i yuftaqadul badru;
    "Umatku, kaumku; akan mengingat-ingat saya pada saat krisis mereka ; dan memang purnama itu di cari2 waktu kelamnya malam." 
    Allahu yarham Gusdur, semoga Allah menempatkan beliau ditempat yang sebaik-baiknya.

    --Ungkap Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, dalam mengenang gusdur saat memperingati haul 1000 hari kewafatan beliau.--

    Kamis, 27 September 2012 ; 

    PP.Tebuireng, Jombang - Jawa Timur

    Memahami Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik (UGM)

    Program Sarjana Manajemen dan Kebijakan Publik (MKP) UGM merupakan pelopor institusi pendidikan di bidang administrasi publik di Indonesia. ...